Leena terdiam sejenak, lalu perlahan melangkah mendekat dengan wajah menegang, sorot matanya dipenuhi rasa iba yang dalam. Di dunia mana pun, selalu ada wanita yang diperlakukan hina, dijadikan sekadar pemuas nafsu dengan alasan kekuasaan, harta, atau kekuatan. Ia meraih sehelai kain panjang yang tergeletak di sudut ruangan, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati, seolah sedang melindungi sebuah porselen rapuh yang nyaris retak. Suaranya lirih, namun penuh kehangatan, mencoba menenangkan kepanikan yang masih menyelimuti.

"Tenanglah... kau sudah aman sekarang. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi," ucap Leena lembut, menunduk untuk menatap mata wanita itu dengan ketulusan yang tulus.

Wanita itu menggigil hebat, tatapannya kosong, bibirnya bergetar seakan ingin bicara, tetapi suara tak keluar. Tangannya yang kurus berusaha menepis kain itu, namun Leena menggenggam jemari dinginnya erat, seolah menariknya kembali dari jurang kegelapan.

"Biarkan aku mati... aku tidak sanggup menahan malu," akhirnya suara itu pecah, parau dan penuh getir. Tubuhnya masih gemetar, teringat pada perlakuan biadab yang baru saja ia alami beberapa saat lalu, dengan ganasnya benda tumpul milik pria tersebut menusuk-nusuk tubuhnya. Sebagai seorang wanita, ia sadar betul aib besar telah menimpa dirinya.

Leena menarik napas dalam, lalu menatapnya penuh keteguhan. "Mati itu jalan yang mudah. Tapi apakah itu akan menyembuhkanmu? Dunia ini luas, dan rasa bersalah itu bukan milikmu. Kesalahan itu ada pada mereka yang merenggut kehormatanmu. Lihat!" Leena menunjuk ke arah jasad yang tergeletak tak bernyawa. "Pria itu sudah menerima hukuman. Dendammu terbalaskan. Sekarang yang tersisa adalah kekuatanmu untuk bertahan, demi keluargamu, demi orang-orang yang masih menunggu kepulanganmu."

Tubuh wanita itu lunglai, lalu jatuh terduduk. Air matanya akhirnya tumpah, deras, ketika kata-kata Leena menembus lapisan terdalam hatinya.

Lynx yang sudah hampir melangkah pergi berhenti di ambang pintu. Ia menoleh, menatap tubuh tak bernyawa dengan dua lubang terbakar di keningnya, lalu bergumam pelan dengan suara dingin namun penuh bara, "Kebusukan dunia ini... memang tak pernah habis."

Leena merengkuh wanita itu dalam pelukan hangat, menepuk-nepuk punggungnya perlahan. "Aku tahu luka ini dalam, sangat dalam. Tapi kau tidak sendirian. Ada banyak orang yang peduli padamu. Aku..." Leena sempat melirik sekilas ke balik dinding, ke arah Lynx yang berdiri tegak memastikan keselamatan para penduduk. "Aku akan pastikan, tidak ada yang berani menyentuhmu lagi."

Tangisan itu semakin pecah, penuh kepedihan sekaligus pelepasan. Leena tetap memeluknya, membiarkan beban itu tumpah keluar bersama air mata.

Di luar pondok, Lynx berdiri tenang. Tatapannya menyapu para penduduk yang mulai berkumpul, wajah mereka cemas sekaligus lega. Beberapa orang terlihat ingin memasuki pondok untuk melihat wanita tersebut. Suara Lynx tegas saat berkata, "Jangan mendekat. Biarkan ia tenang dulu. Kalian jagalah tempat ini. Dan sebagian orang, bawa jasad itu jauh dari sini."

Para penduduk menunduk dalam dan mengikuti arahan pemuda yang sudah menolong mereka,meskipun kecemasan belum bisa mereka hapus dari wajah mereka. Seorang lelaki memberanikan diri maju, suaranya bergetar, "Kami... kami berhutang nyawa pada kalian. Terima kasih."

Satu per satu penduduk desa turut maju, wajah mereka dipenuhi syukur. Suasana siang itu masih tegang, tapi ada secercah harapan yang mulai menyala. Seorang lelaki tua lainnya berkata dengan suara parau, "Terima kasih... terima kasih sudah menyelamatkan kami."

Lynx menanggapinya dengan anggukan tipis, senyum samar terlukis di wajahnya. Ia memperhatikan dari kejauhan bagaimana beberapa penduduk mulai menenangkan para wanita yang baru saja terbebas dari belenggu penderitaan.

Lynx hanya mengangguk singkat. Matanya terarah ke langit, dan dalam hati ia berjanji, "Selama aku masih berjalan di dunia ini, kebiadaban seperti tadi tidak akan kubiarkan merajalela."

Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih melangkah maju. Sorot matanya tegas, tubuhnya tampak lelah namun tidak dapat menutupi kebijaksanaan tinggi yang terpancar dari wajahnya. Meski ia merasakan ranah Lynx hanya forging qi tingkat dua, tetapi dia tidak berani meremehkannya. Dia sudah melihat pemuda itu turun dari langit dan bergerak secepat kilat, ia tahu kekuatan Lynx jauh melampaui apa yang bisa dirasakannya, terutama wanita yang bersamanya, mampu membunuh keempat penjahat tersebut tanpa ada yang mengetahui teknik yang dia gunakan. "Aku kepala desa Linxi. Kami berhutang nyawa pada kalian. Tapi aku harus jujur... pemimpin mereka bersama pengikutnya pasti akan kembali. Mereka sedang mengejar seorang pria yang sebelumnya mencoba menolong kami, meski gagal." Suaranya mengandung kecemasan yang berat. "Kami tidak tahu apakah kalian sanggup menghadapi mereka, tetapi kami tidak ingin melibatkan kalian lebih jauh. Pergilah secepatnya."

Kepala Desa menatap para penduduk di sekitarnya yang menundukkan wajah lesu. Mereka merasa bahagia dengan kedatangan dua sosok yang telah menyelamatkan mereka. Namun saat memikirkan para penjahat lain dalam jumlah lebih banyak, rasa takut kembali menyelimuti mereka. Para penduduk saling berpelukan, saling menguatkan. Kepala Desa berniat mengajak mereka semua pergi berpencar sebelum para penjahat kembali.

Tatapan Lynx dalam dan tenang. "Kalian tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan kembali. Semua sudah mati."

Kabar itu membuat penduduk saling berpandangan. Sebagian terkejut, sebagian lega. Kepala desa menatap Lynx dengan penuh rasa ingin tahu. "Apakah benar yang kamu katakan? Kalau begitu... orang itu... apakah dia yang berhasil membunuh mereka? Kalau benar, kami juga harus berterima kasih padanya."

Lynx menggeleng perlahan. "Pria itu... siapa sebenarnya dia? Mengapa begitu banyak kultivator memburu seorang manusia biasa tanpa kekuatan spiritual sedikit pun?"

Kepala desa termenung sejenak, lalu menjawab ragu, "Manusia biasa? Kekuatan kami terlalu lemah untuk merasakan ranah sejati kalian. Kurasa pria itu menyembunyikan kekuatannya. Dan kami pun tak tahu siapa dia sebenarnya. Yang jelas, dia muncul tiba-tiba, membunuh beberapa dari mereka, lalu melawan pemimpin mereka hingga ia terluka parah... lalu dia pergi memancing mereka menjauh dari desa ini."

Kepala desa menunduk dalam-dalam. "Kami salah menilai. Awalnya kami kira dia melarikan diri karena tidak mampu menghadapi mereka. Nyatanya dia berkorban melindungi kami." Suaranya penuh penyesalan dan hormat.

Lynx hanya diam, hatinya dipenuhi rasa bimbang. Yang membunuh para penjahat itu adalah dirinya, namun dia tidak tahu apakah harus memberi tahu mereka mengenai hal tersebut. Sedangkan pria misterius itu menghilang tanpa jejak. Justru karena pria itu bisa lepas dari pantauannya, Lynx makin penasaran, siapakah sosok tersebut?

Tiba-tiba Lynx menyipitkan mata. "Kalian... alchemist?"

Kepala desa tampak terkejut, lalu mengangguk. "Benar. Desa kami bernama Linxi. Di sinilah para alchemist dari seluruh pelosok Kerajaan Muyun berkumpul. Kami belajar, meneliti, dan menempa kemampuan membuat pil."

Lynx mengedarkan pandangannya. Setiap rumah menyimpan aroma unik sisa pembakaran pil, menandakan banyak tangan berbeda yang bekerja di sini. Anehnya, pil-pil itu beraroma kualitas tinggi, namun penduduk rata-rata hanya di ranah forging qi, bahkan banyak manusia biasa di antara mereka. "Bagaimana mungkin mereka menghasilkan pil berkualitas tanpa kekuatan qi yang kuat?" batinnya bertanya-tanya.

Ia memilih menyimpan pertanyaan itu. "Kalau begitu," katanya lagi, "mengapa tidak ada yang melindungi kalian? Bukankah desa penting seperti ini pasti memiliki penjaga?"

Wajah kepala desa mengeras. "Seharusnya memang ada. Tapi mereka tak pernah muncul sejak serangan itu dimulai. Kami khawatir mereka telah terbunuh terlebih dulu."

Lynx menyipitkan mata, nadanya dingin. "Kalian tahu siapa mereka sebenarnya?"

Kepala desa menggeleng. "Tidak. Kami baru kali ini melihat mereka. Tapi ada satu hal. Dari kata-kata yang sempat mereka ucapkan... mereka menyebut tentang ritual pengorbanan. Kami menduga mereka hanyalah bagian kecil dari kelompok besar yang mencari korban untuk dijadikan tumbal."

Mata Lynx berkilat tajam. Jemarinya mengepal, suara batinnya dipenuhi amarah. "Monrest... jadi kau melakukannya lagi." Ingatannya kembali ke planet Surya, saat Monrest dengan kejam menebar teror serupa. Menangkap orang-orang tak berdosa untuk dijadikan korban.

"Kali ini, apa tujuanmu?" Lynx bertanya-tanya didalam hati. Di Planet Surya, keturunannya, para suku Monrest menggunakan pengorbanan untuk membangkitkannya. Dan untuk meningkatkan kekuatannya melalui batu meteor, dia mengorbankan banyak penduduk. Lynx meraba perutnya dimana posisi dantian dan benda asing yang diyakini memiliki hubungan dengan batu meteor berada.

"Apapun tujuanmu. Aku pasti akan menghentikanmu." Batin Lynx dengan tegas.

